Mahasiswa Baru (MaBa) dan Mie Instan



Siapa yang tidak mengenal mie instan? Makanan kebangsaan anak kost, mahasiswa maupun kalangan yang serba ingin praktis lainnya, makanan murah meriah dan rasanya yang enak dan cara memasak yang praktis ini menjadikan mie instan idola di kalangan masyarakat. Pada Kesempatan ini penulis khusus ingin membahas mengenai hubungan mie instan dan mahasiswa baru atau yang sering disebut juga dengan MaBa.

Mendapat cap sebagai seorang mahasiswa baru tentunya menjadi sebuah kebanggan tersendiri yang mungkin dapat diartikan juga dengan kenaikan level. Namun, akan ada rasa canggung maupun perasaan yang masih belum terbiasa saat memulai hidup di lingkungan baru, terutama seorang mahasiswa baru yang akan tinggal di lingkungan yang jauh dari kampung halaman. Sesuai pengalaman penulis pribadi dan pengalaman dari rekan-rekan, memang tiap-tiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi lingkungan baru.

Menghirup udara ditempat baru terkadang masih terasa asing yang membuatnya harus membiasakan diri agak lama dengan berbagai kondisi di sekitarnya. Baik itu orang-orangnya, lokasinya, makanannya, budayanya, dan masih banyak lagi. Kebanyakan, yang menjadikan proses membiasakan diri itu agak lama adalah faktor kuliner atau makanannya. Tentu orang-orang jarang mau dengan berbagai jenis makanan yang ada saja. Apalagi yang sesuai dengan isi kantong. Pastinya tidak ingin uang jatah dari orangtua perbulannya jadi cepat habis karena tidak bisa mengatur pengeluaran hanya untuk urusan makan saja. Namun tenang dulu, pada umumnya di setiap kampus manapun itu pasti akan ada berjejer warung makan dengan berbagai olahan menu, paling sering ada pastinya gorengan, gado-gado ataupun warung makan kecil yang biasanya ada seperti warung penyet atau lamongan, dengan lauk praktisnya seperti tempe, tahu, telor, ayam, lele, bebek dan lain sebagainya sesuai pilihan menu di warung tersebut. Selain itu, Ada juga nasi goreng yang umumnya mulai buka pada malam hari. Warung nasi goreng sudah dipastikan ada di lingkungan kampus manapun. Alasannya karna memang orang Indonesia mayoritas suka dengan yang namanya nasi goreng. Kalau sudah ada yang cocok di lidah, jadikan saja langganan. Kalau penjualnya sudah kenal, lebih enak pastinya dan bisa dapat korting-kortingan.
Kelengkapan pilihan kuliner tadi yang disertai kuliner lain yang juga saling melengkapi, pastinya sedikit membuat lega para MaBa karena tidak perlu repot mencari bahan masakan untuk masak sendiri, karena semua telah tersedia di lingkungan baru. Namun kebanyakan masih ada juga dari mereka yang masih minta uang dari orangtuanya. Untuk itu tentunya tidak mau terus menyusahkan orang tua hanya karena tidak mampu mengatur uang. Kalau mau lebih hemat lagi tinggal masak saja dirumah atau kost. Sekarang umumnya kost-kost-an mahasiswa/mahasiswi sudah dilengkapi dengan dapur atau paling tidak, ada kompor gas. Disana bisa memasak apapun yang diinginkan, terutamanya makanan wajib mahasiswa, mie instan. Harga murah, praktis dan cukup mengenyangkan. Itu yang dicari.
Mie Instan sendiri adalah sebuah makanan cepat saji yang sering menjadi pilihan alternatif ketika makanan dasar tidak ada ataupun saat tengah memasuki masa-masa tanggal tua. Mie instan di jaman sekarang apalagi di kalangan mahasiswa merupakan makanan favorit dan sudah menjadi kebutuhan primer yang tidak bisa terpisahkan. Mie instan sekarang selain sudah banyak jenisnya juga saat ini sudah banyak macam-macam rasa yang membuat mahasiswa makin betah mengkonsumsi mie instan yang tentunya sudah menjadi makanan wajib yang harus ada di kamar karena selain praktis dalam mengolahnya, mie instan juga bisa dikreasikan dengan telur ceplok, telur dadar dan tambahan sepiring nasi putih hangat maupun dingin yang tidak kalah nikmat dari sebelumnya atau bisa juga mencampur bumbu mie dengan mie lainnya.
Pengalaman penulis sendiri sebagai anak perantauan dan saat masih menjadi maba tentunya pernah melewati fase ini dan terkadang  masih tergantung dengan kondisi sekarang. Seperti yang sudah disebutkan kalau mie bukan lagi jadi kebutuhan primer anak kost-an, kehadiran mie sudah menjadi menu wajid di dalam kost-an. Apabila sehari saja tidak makan mie bisa-bisa nanti pingsan. Bagaimana tidak makanan yang hanya mie instan diakhir bulan, kalau tidak makan mie bearti tidak makan seharian. Dalam hal ini, sepertinya pinjam-meminjam hanya berlaku di suatu barang atau bisa menggunakan jasa pegadaian. Kalau sebagai anak kost-an hal pinjam-meminjam ini pun berlaku untuk makanan dengan jaminan harus dikembalikan lagi dengan bentuk baru di awal bulan. Makanan yang dimaksud adalah mie instan, kalau belum pernah melakukan ini jangan bilang sebagai anak kost-an.
Meskipun tidak baik dikonsumsi setiap hari, memang tuntutan kepraktisan dan ketersediaan waktu yang semakin sempit karena kesibukan, para mahasiswa apalagi mahasiswa baru yang sedang sibuk-sibuknya memasuki masa-masa awal perkuliahan memang memerlukan pangan yang lebih cepat dan praktis. Namun demikian, perlu disadari untuk selalu berusaha mengembangkan perilaku hidup sehat, termasuk perilaku makan sehat dengan menu pangan yang sehat. Secara umum, perilaku makan sehat yang perlu disampaikan adalah mengkonsumsi aneka ragam jenis pangan dan jangan berlebih-lebihan terhadap salah satu jenis produk pangan. Berdasarkan catatan pengalaman penulis dan sedikit penelitian di tempat kost an teman, akhirnya penulis bisa menarik kesimpulan bahwa mie instan bukan hanya kebutuhan primer tetapi juga sudah jadi kebutuhan sekunder dan tersier.

Sekian dulu yang dapat penulis sampaikan. Semoga bermanfaat :)

Kategori

Kategori